Tuesday, September 9, 2014

Membantu Operasi Kaki Kucing

Sebelumnya saya belum pernah ketemu dengan yang namanya dokter hewan, apalagi yang namanya wawan, hingga akhirnya mau ga mau harus berurusan dengan salah satunya.

Jadi awal ceritanya adalah suatu kamis Gwe pulang dan sampai di depan rumah. Di hari yang sudah mulai gelap gulita ulala, Gwe mendapati sesuatu teronggok di gerbang. Ternyata makhluk itu adalah seekor kucing. Gwe melihat ada yang aneh, yaitu dia enggan pergi ketika dilewati. Biasanya kan kalau hewan yang kita masih asing atau nggak akrab-akrab banget akan segera menghindar dengan pandangan takut. Eh ni kucing yang tubuhnya warna tiga: putih, orange, kelabu, cuman ngeliatin dengan pandangan menantang. Paling dia jalan geser aja. Dari situ akhirnya Gwe tahu kalau ada yang nggak wajar ama kakinya. Lagian ada perban berwarna kusam yang terurai. 
-->

Mai oh mai! Gwe surprise melihat ternyata kakinya buntung! Tak sekedar buntung biasa tapi masih ada lukanya. Gwe diem sejenak ga tau harus ngapain, hingga memutuskan untuk nanya tetangga Gwe yang masih di luar rumah ngasuh anaknya yag masih bayi, yaitu ibu Juharis. Dari beliau Gwe tahu kalau kucing ini memang sering maen di kompleks kita tapi ga ada yang punya alias liar. Gwe juga baru keinget kalau si kucing ini pernah beberapa kali tidur di kursi depan rumah, dan juga kursi jok motor Gwe yang kadang-kadang menimbulkan jejak tanah karna kakinya yang nggak dicuci. Namun kucing ini biasa dikasih makan ama anaknya pak Dodik, si kecil Khaira, sehingga makhluk ini cukup jinak. Gwe tunggu semenit, dua menit, mengira si kucing akan pergi, tapi ternyata masih diem di teras rumah Gwe. Sempet bersandar di pengki sejenak, lalu pindah di kursi yang lebih empuk. Gwe sempet merencanakan untuk membersihkan lukanya dan membalut dengan perban, tapi setelah Gwe mandi dan sholat Maghrib. Setelah itu Gwe baru ngecek si kucing, eh ternyata lukanya cukup parah, dan sepertinya Gwe nggak bisa nanganin sendiri. Gwe sempet mo minta perban ke rumah pak Dodik yang ternyata di rumah adanya cuman istri anaknya. Dari situ Gwe dapet cerita awal mula kenapa si kucing akhirnya buntung. Tapi karena beberapa poin tak ada yang bersaksi, maka daripada faktanya tidak akurat, tidak Gwe tulis di sini. Intinya si kucing mengalami suatu peristiwa celaka, hingga dia kehilangan kaki kanan belakangnya.

Satu-satunya hal yang Gwe pikir kemudian karena ga bisa nanganin luka si kucing adalah pergi ke dokter hewan. Berhubung belum pernah menjalin hubungan dengan satu dokter hewan pun maka Gwe tanyalah temen-temen yang Gwe tahu suka melihara hewan seperti anjing dan kucing. Pertama Gwe bertanya pada guru keyboard gwe, cik Sheila. Dia ngasih referensi yang alamatnya Gwe ga begitu paham. Gwe lalu coba tanya temen kantor mas Hari. Salah satu referensinya ada di pamularsih. Gwe pilih untuk ke situ, karena alamat yang lebih familiar dan cik Sheila bilang itu temennya. Maka dengan berbekal kantung beras plastik dari bu Juharis yang sudah dikasi rongga udara dan tas ransel maka Gwe bawa lah si kucing ke Pamularsih.
Hari telah gelap begitu Gwe sampai di klinik hewan yang bangunannya terletak di tanah miring. Sebelumnya Gwe udah nelfon ke sana dan diberi tahu kalau tutupnya malem jam 10. Gwe bersyukur karena itu, karena yang laennya biasanya udah tutup pas sore. Di sana Gwe ke resepsionis dan utarakan permasalahannya. Lalu datanglah seorang dokter cowok  muda berkulit cerah dan bertubuh tambun. Dokter yang bernama Niko itu mengajak Gwe ke ruang periksa dan menaruh si kucing ke meja periksa yang terbuat dari logam. Setelah meneliti beberapa saat dia menyimpulkan kalau kaki si kucing harus diamputasi. Tak hanya pada bagian yang terluka tapi agak naek sedikit, karena menurutnya lukanya sudah infeksi. Gwe sedih, dan yang lebih sedih lagi waktu si dokter bilang biaya operasi amputasi diperkirakan mencapai 1,5 juta. Dari mana Gwe bisa dapet duit sebanyak itu. Gwe memohon pada si dokter muda untuk meringankan biaya operasi atau setidaknya Gwe berharap si kucing bisa cukup diobati dan diperban begitu saja. Tapi ternyata menurut si dokter nggak bisa. Dia nyaranin Gwe untuk datang keesokan harinya bertemu manajemen klinik guna mendapatkan keringanan biaya, atau setidaknya bantuan donasi dari pencinta hewan. Mengingat kucing ini adalah kucing liar tak bertuan, yang tentu saja kasihan kalau dibiarkan begitu saja.

Keesokan harinya sesudah sholat Jumat Gwe pun pergi ke klinik dan ketemu dokter hewan Anna, sang pemimpin klinik. Meskipun dianya akan mencoba mengusahakan keringanan biaya, Gwe tetep diminta untuk mencari donasi. Maksudnya sih supaya usaha Gwe ini dapat meng-edukasi masyarakat. Agar mereka bisa lebih menyayangi hewan, meskipun itu kucing dari ras kampung, dan terlebih lagi liar. Dan juga ikhlas menyumbangkan sebagian harta yang dimiliki. Sebenernya Gwe berharap untuk keringanan biaya atau malah dibebaskan. Menurut doter, kalau dari biaya operasi dokter bisa dibebaskan, tapi kan ada kebutuhan obat dan lain-lain. Dan Dokter pun memutuskan untuk tetap mengoperasi amputasi si kaki kucing hari itu juga, sembari Gwe nyari dana.

Satu-satunya yang bisa Gwe bikin dalam mencari donasi adalah melalui social media. Yang paling deket adalah program Blackberry, lalu juga Gwe sebarkan informasi penggalangan dana di FaceBook dan Twitter. Gayung pun bersambut, meskipun ada yang cuek atau menyepelekan, Alhamdulillah masih ada orang-orang baik di dunia ini. Tak hanya mau menyumbang, bahkan ada satu temen lulusan sekolah DJ yang bersedia untuk merawat si kucing selepas dia dioperasi.

Guna mempersiapkan kenyamanan si kucing selepas dia dioperasi, sabtu yang kebetulan libur kantor Gwe pergi ke Kampung Kali untuk nyari kandang kucing atas saran mas Hari Wija. Di sana Gwe hanya menemukan satu penjual yang jual kandang. Tadinya Gwe sempet muter nyari yang laen. Ya udah adanya itu Gwe beli lah yang warna item dengan harga 150rb. Bagusnya nih kandang adalah dia bisa dilipet, sehingga bisa Gwe taroh di bagian depan motor  matic Gwe yang bisa tempat naroh kaki. Selanjutnya Gwe pun balik ke rumdin, dan sorenya pulang kampong di Cepiring, Kendal.

Dari yang awalnya Gwe khawatir nggak akan mendapat dana cukup, ternyata setelah dikumpulkan malah melebihi dari perkiraan biaya. Namun karena belum ke klinik dan kata dokter Niko belum bisa diitung biayanya, Gwe jadi khawatir bakal over budget. Dokter menyarankan kalau mau ambil kucing nunggu saja sampai lukanya kering, jadi sekitar hari senin. Gwe berencana untuk mengambil si kucing sekalian mengantarkannya ke rumah calon pengadopsi di Tembalang pas hari senin. Dan yang Gwe ajak untuk nemenin adalah ponakan dari Jakarta yang baru keterima kuliah di Undip, namanya Rani. Apalagi Gwe perkirakan kos Rani yang terletak di Tembalang, tentunya tidak jauh dari lokasi rumah temen Gwe. Namun ternyata pas Senin Gwe telfonan ama Dokter Niko, dia menanyakan bisa nggak Gwe ngeganti perban nya si kucing. Nah daripada salah prosedur sehingga menyebabkan si kucing infeksi dan sakit, maka Gwe pun diperkenankan ngambil si kucing kalau lukanya udah kering, kira-kira di hari Rabu. Jadi kira-kira akan ada tambahan biaya inap dan makan (perawatan). Gwe cuman bisa berdoa, dana sumbangan mudah-mudahan masih cukup untuk meng-cover semua itu.
Tibalah hari H dimana Gwe rasa sudah saatnya untuk menjemput si kucing kaki tiga. Rani Gwe kontek untuk turun dari Tembalang, karena rasanya gak mungkin Gwe naek motor sendiri sambil nenteng kucing. Apalagi kandang kucing lumayan gede. Setelah menjemput Rani dari Indomaret depan Java Mall, kita langsung bergerak ke Klinik Griya Satwa di Pamularsih. Di sana kita liat si kucing yang nampaknya sudah nampak kuat untuk diasuh mandiri. Masih khawatir dengan biaya yang bakal membengkak Gwe nemuin Dokter Niko. Kebetulan juga lagi ada manajemen klinik yang hadir. Dokter Niko pun menjelaskan tentang biaya operasi, obat dan penginapan, yang pada akhirnya berujung bahwa ternyata Gwe nggak harus bayar sebanyak yang diperkirakan. Mungkin karena ada yang donasi sehingga ada pembebasan sejumlah biaya. Gwe seneng dong. Namun karena Gwe sudah ada duit sumbangan, Gwe ga mau nyimpen tuh duit. Itu adalah uang yang diberikan para dermawan untuk membantu kucing malang. Maka Gwe memutuskan untuk menyumbangkan sebagian uang ke klinik, yang bisa digunakan sewaktu-waktu bila ada kejadian serupa, yaitu hewan sakit yang tak ada yang membiayai perawatannya. Sebagian uang Gwe belanjakan untuk membeli makanan kucing, wadah makanan, obat, dll. Sebagian sisanya Gwe simpen untuk Gwe kasih ke temen yang mengadopsi si kucing. Karena ada informasi dari dokter kalau si kucing kalau udah sembuh masih perlu diberikan vaksin, yang biayanya tidak murah juga. Karena kandang yang begitu besar, pihak klinik menyarankan Gwe untuk nge-bawa si kucing dengan tas kucing. Dokter Uli yang pake jilbab meminjamkan tasnya. Kandang logam tetep Gwe bawa tapi dilipat. Maka dengan berkendara ekstra hati-hati Gwe dan Rani melaju ke Tembalang. Setelah muter-muter dan telfonan akhirnya ketemulah rumah si calon majikan kucing kaki tiga sekitar pukul sepuluh malem alias 22. Sempet ada adegan si kucing pipis ngumpet di balik papan kayu malu-malu dan nyaris saja Gwe angkat. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, akhirnya Gwe harus melepas si kucing pulang. Karena juga ga mungkin ngajak Rani di luar kos lebih malam lagi. Maka setelah makan malam yang telat bersama Rani, Gwe nganter dia ke kosannya. Ada adegan juga dimana gerbang udah dikunci dan Gwe terpaksa harus naek pager dan tereak-tereak manggil-manggil mbak nya yang jaga kos. But overall, usaha yang untuk membantu operasi kaki kucing ini berjalan lancar. Alhamdulillah.


Kabar terbaru, Selasa 9 September 2014. Si kucing kaki 3 udah nampak lebih sehat. Terlihat dari penampakannya yang gendut. Sang pemilik sekarang, Libie bilang kalau si kucing sehat dan hobi makan. Alhamdulillah. Dan dia udah dikasih nama, yaitu Sesil. Gwe jadi keinget salah satu karakter buku karya Gwe, yaitu (masih) Menanti, namanya adalah Cecilia.

Berikut adalah daftar para dermawan baik hati yang telah menyisihkan harta yang mereka miliki untuk membantu biaya operasi dan perawatan kucing kaki tiga. Thanks for all:
1    DODIK
2    ADHESI RATNA
3    SITI BAKSO ALEX
4    NITA SETIYANINGSIH
5    RIA HERMINA
6    ERIK ISMARGONO
7    LIBIE CAMERON (juga PENGADOPSI KUCING)
8    GITA
9    SHEILA
10    FITRI
11    RATNA
12    RATIH TRI W
13    PEPI OKTAYANI

14    ATIK BAROROH
15    SRI PURWANTINI

2 comments:

  1. Tolong Sy pny kucing kecil yg baru tertabrak 2 kaki blkng ny patah jln ngsot dan perut bengkak ga nafsu mkn Sy ga ckp bnyk uang untuk bw ke dokter adakah yg ingin menampung ny

    ReplyDelete
  2. Wah saya terharu om dengan perjuangan ente, semoga Allah SWT membalas perbuatan baik ente

    ReplyDelete

2 komentar:

Seny Magdalena said...

Tolong Sy pny kucing kecil yg baru tertabrak 2 kaki blkng ny patah jln ngsot dan perut bengkak ga nafsu mkn Sy ga ckp bnyk uang untuk bw ke dokter adakah yg ingin menampung ny

We Love Indonesia said...

Wah saya terharu om dengan perjuangan ente, semoga Allah SWT membalas perbuatan baik ente

Post a Comment